PENOLAKAN BANDARA DI KULON PROGO
MAKALAH INI
DISUSUN GUNA MEMENUHI TUGAS INDIVIDU
MATA KULIAH IPS 1
Dosen Pembimbing : Dwi Wijayanti, M.pd
![Description: Description: D:\- LAPTOP GUARD [ DATA BACKUP ]\- Downloads\logo-ust.jpg](file:///C:\Users\WINDOW~1\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image002.jpg)
Disusun
Oleh :
ARIF NUGROHO
2G
2014015299
UNIVERSITAS
SARJANAWIYATA TAMANSISWA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PRODI
PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG MASALAH
Pada
masa sekarang banyak kita jumpai permasalahan
sosial yang terjadi di setiap Negara. Seperti salah satu masalah mengenai penolakan bandara di Kulon Progo yang saat ini masih
menjadi topik panas didaerah Yogyakarta tepatnya di Glagah , Kecamatan Temon ,
Kabupaten Kulon Progo.
Hal ini muncul
dilatarbelakangi masyarakat daerah sekitar yang menolak keras pembangunan
bandara dilahan pertanaian mereka seperti yang diberitakan di koran Tribunjogja
22 Februari 2015,kecaman ini disebabkan mereka tidak mau lahan yang semula
menjadi pusat mata pencaharian mereka lenyap karena rencana pembangunan bandara
tersebut.Hal ini memicu konflik keras antara pemerintah dengan warga
setempat.Banyak sekali Demonstrasi yang sering dilakukan oleh warga diantaranya
membuat reklame-reklame kecaman terhadap pemerintah setempat maupun terhadap pemerintah pusat. Mereka tidak terima dengan adanya pendataan warga yang terkena
mega proyek bandara sejak beberapa waktu terakhir.
Petugas dari setiap desa sudah mendata warganya yang akan
tergusur, baik tempat tinggal maupun lahan pertanian agar mendapat ganti
rugi.Sebelumnya para warga sudah menegaskan untuk menolak pembangunan bandara,
meski diberi ganti rugi. Para mahasiswa sempat mengamuk karena beberapa pejabat
kecamatan dan Kabupaten Kulon Progo menolak menandatangani pernyataan menolak
pembangunan bandara.Pejabat desa dan kecamatan menegaskan, tidak bisa memenuhi
permintaan warga karena rencana pembangunan bandara sudah menjadi keputusan pemerintah
provinsi dan pemerintah pusat.Berita
yang termasuk dalam kategori demonstrasi ini dipicu akibat kurang paham dan
kurangnya sosialisasi terhadap masyarakat sekitar akan potensi,manfaat dan
dampak akibat pembangunan bandara tersebut.
Munculnya aksi-aksi demonstrasi tersebut tidak luput dari
yang namanya peran aktif dari mahasiswa. Dalam hal ini, mahasiswa merupakan
gerakan yang paling peka dan paling kritis dalam menanggapi setiap permasalahan
yang terjadi dalam pemerintahan dan Negara. Apabila dirasa ada sesuatu yang
melenceng atau tidak beres dalam pemerintahan, mahasiswa pasti segera turun ke
jalan, melakukan aksi demonstrasi untuk menyuarakan perubahan dan perbaikan.
B. RUMUSAN
MASALAH
Makalah
ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Apakah
pengertian Demonstrasi?
2. Mengapa Demonstrasi dapat terjadi?
3. Faktor-faktor
apa saja yang menjadi penyebab
penolakan pembangunan megaproyek bandara tersebut?
4. Kelompok
masyarakat yang seperti apa yang terlibat
dalam konflik megaproyek tersebut?
5. Bagaimana
pro dan kontra masyarakat dengan pemerintah terkait
dengan pembangunan bandara?
C. TUJUAN
PENULISAN
1. Mengetahui
Demonstrasi itu
2. Mengetahui
penyebab terjadinya Demonstrasi
3. Mengetahui
faktor-faktor apa saja penyebab penolakan
pembangunan megaproyek bandara
4. Mengetahui
kelompok masyarakat yang
terlibat dalam konflik megaproyek
5. Megetahui
bagaimana pro dan kontra
masyarakat dengan pemerintah terkait dengan pembangunan bandara
BAB
II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
DEMONSTRASI
Demonstrasi memiliki banyak definisi dan
pengertian yang berbeda-beda jika diteliti dari sudut pandang yang berbeda. Demonstrasi
dapat diartikan sebagai suatu aksi peragaan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang untuk menunjukkan cara kerja, cara pembuatan, maupun cara
pakai suatu alat atau material,akan
tetapi di sini saya menggunakan definisi demonstrasi dalam
konteksnya sebagai salah satu jalur yang ditempuh untuk menyuarakan pendapat,
dukungan, maupun kritikan, yaitu suatu tindakan untuk menyampaikan penolakan,
kritik, saran, ketidakberpihakan, dan ketidaksetujuan melalui berbagai cara dan
media dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan baik secara tertulis maupun
tidak tertulis sebagai akumulasi suara bersama tanpa dipengaruhi oleh
kepentingan pribagi maupun golongan yang menyesatkan dalam rangka mewujudkan
demokrasi yang bermuara pada keadaulatan dan keadilan rakyat agar
tidak menimbulkan konflik berkepanjangan.
Sesuai buku karya Prof.Dr.Wardi Bachtiar, M.S yang berjudul SOSIOLOGI
KLASIK dikutipkan bahwa teori dan pengertian demonstrasi jika tidak ditanggapi
dengan baik akan mengakibatkan konflik. Konflik itu sendiri didefinisikan
merupakan suatu fakta utama dalam masyarakat atas ketidakberfungsinya komponen
masyarakat sebagaimana mestinya atau gejala penyakit dalam masyarakat yang
tidak terintegrasi secara tidak sempurna. Konflik merupakan realitas yang harus
dihadapi oleh para ahli teorisosial dalam membentuk model-model umumperilaku
sosial.
Konflik mempunyai fungsi-fungsi positif. Salah satunya adalah mengurangi
ketegangan dalam masyarakat,juga mencegah agar ketegangan tersebut tidak terus
bertambah dan menimbulkan kekerasan yang memungkinkan terjadinya
perubahan-perubahan.
Menurut UU Nomor 9 Tahun 1998, pengertian demonstrasi atau unjuk rasa
adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau lebih, untuk mengeluarkan
pikiran dengan lisan, tulisan dan sebagainya secara demonstratif dimuka umum.
Namun, dalam perkembangannya sekarang, demonstrasi kadang diartikan sempit
sebagai long-march, berteriak-teriak, membakar ban, dan aksi teatrikal.
Unjuk
rasa atau demonstrasi, "demo" adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di
hadapan umum. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok
tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula
dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh kepentingan kelompok Unjuk rasa umumnya dilakukan oleh
sekelompok orang yang menentang kebijakan pemerintah, atau para buruh yang tidak puas dengan perlakuan atasanya. Unjuk rasa kadang dapat menyebabkan
pengerusakan terhadap benda-benda dan fasiltas umum. Hal ini dapat terjadi
akibat keinginan menunjukkan pendapat para pengunjuk rasa yang berlebihan.
B. PENYEBAB TERJADINYA DEMONSTRASI
Dalam iklim demokrasi di Indonesia, aksi unjuk rasa adalah hal yang
wajar untuk mengungkapkan aspirasi yang tersumbat oleh sistem maupun oleh
mentalitas para pengelola atau lembaga negara.seperti hal
yang sedang saya bahas dalam makalah ini yaitu penolakan bandara di Kulon
Progo,banyak alasan atau penyebab terjadinya demonstrasi.
Ada beberapa alasan mengapa
terjadi Demonstrasi atau unjuk rasa :
1. Adanya ketidak
adilan sosial,
2. Ketidaksesuaian
pendapat.
3. Adanya aspirasi dan masukan rakyat yang belum terpenuhi yang
bermula dari inkonsistensi para pengelola negara dalam merealisasikan
kebijakannya
4. Orang awam yang hanya sekedar ingin
meramaikan atau memicu konflik saja.
Atau mungkin masih banyak lagi
alasan lain yang memicu tergeraknya unjuk rasa itu. Unjuk rasa adalah hal
biasa, yang perlu dijaga adalah ketentraman, kedamaian dan tidak anarkis. Begitu pun pemerintah, harus
benar-benar mendengar dan menyerap aspirasi yang disampaikan walaupun dilakukan
oleh sekelompok pengunjuk rasa yang jumlahnya sedikit, kemudian berupaya
maksimal dalam merealisasikannya. Semarak unjuk rasa sudah sering dilakukan
oleh berbagai kalangan di berbagai daerah, tentu dengan kasus yang berbeda, dan
tidak selalu harus people power.Aksi unjuk rasa adalah peristiwa politik, dan
jika dilakukan oleh lawan politik, itu hal yang wajar dan biasa. Namun jika
dilakukan oleh siapa pun elemen, baik yang memilih Presiden dan Partainya,
masyarakat netral, ditambah lawan politiknya. Nah, ini yang tidak biasa, tentu
ada sesuatu yang perlu dipertanyakan dari kredibilitas pemerintah saat ini.
C. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PENOLAKAN
PEMBANGUNAN MEGAPROYEK BANDARA DI KULON PROGO
Ketidaklengkapan informasi soal ganti rugi menjadi salah satu
penyebab banyaknya buruh tani penggarap menolak rencana pembangunan bandara.Tim Pembangunan Bandara, menyatakan, bahkan
sampai saat ini masih ada kendala yang dihadapi, yaitu keberadaan petani
penggarap lahan non PAG termasuk buruh tani yang belum terdata sama sekali.
Menurut cerita
warga sekitar lokasi yang saya temui tepatnya di Desa Glagah, Kecamatan Temon,
Kabupaten Kulon Progo dimana bandara akan dibangun,penyebab utama terjadinya
demo penolakan pembangunan bandara ini dikarenakan rakyat sekitar takut
rumahnya yang telah bertahun–tahun ditempati tergusur begitu saja dan merekapun
takut kehilangan mata pencaharian mereka yang sebagian besar adalah bertani
atau bercocok tanam. Lahan yang semula mereka gantungkan untuk mencari
kebutuhan hidup sangat mereka pertahankan,meskipun tanah yang dintinggali warga
sebenarnya masih milik kraton Ngayogyakarta,namun warga masih tetap saja sulit
untuk mengerti akan dampak positif yang besar dari pembangunan megaproyek ini.Kondisi
ekonomi didaerah glagah sebagian besar penduduknya adalah petani dan nelayan.Warga
Temon ini kebanyakan sangat mengkhawatirkan dampak negatif akan kehilangan apa
yang mereka miliki.
Berikut ini berbagai
macam foto atau respon penolakan terhadap mega proyek ini yang dapat saya
lampirkan :





Jika
sampai ada yang terlewatkan, maka para petani penggarap atau buruh tani itu tidak
akan memperoleh ganti rugi. “Nah, yang belum, buruh tani dapat mendaftar
menyertakan surat pernyataan bukti sebagai penggarap lahan, diketahui warga
lain, surat bukti dari pemilik lahan jika memungkinkan, dan disahkan kepala
desa,” Tim tersebut menyatakan, penggarap lahan atau buruh tani meski tidak
memiliki tanahnya, akan tetap mendapat gantirugi non fisik berupa uang.
Mengenai hal itu, selama ini nampaknya memang belum tersosialisasikan dengan
baik. Sebab itu, di tingkat masyarakat masih banyak penolakan dari para
penggarap lahan.
Ditegaskan,
kehilangan yang bersifat non fisik pun akan diperhitungkan. kerugian non fisik itu antara lain,
kehilangan pekerjaan, biaya alih profesi, dan kerugian emosional atau solatium
akibat kehilangan tempat tinggal, pindah dari rumah.
Selain
meminta para petani penggarap mendaftarkan diri, pihaknya juga berharap
pemerintah desa segera melakukan pendataan petani buruh di wilayah
masing-masing. konsultasi publik lanjutan bulan ini
akan digelar di Balai Desa Palihan dan Kecamatan Temon. “Semua warga terdampak
harus hadir,” katanya.
D. KELOMPOK
MASYARAKAT YANG TERLIBAT DALAM
KONFLIK PENOLAKAN PEMBANGUNAN MEGAPROYEK BANDARA
1. Kelompok
masyarakat miskin
2. Kelompok
masyarakat menengah yang tidak punya pandangan terhadap potensi
atas dibangunya bandara
3. Kelompok
Mahasiswa yang tergabung dalam Organisasi Pecinta Alam
atau Lingkungan
4. Kelompok
masyarakat yang sudah mempunyai
lahan kerja tetap dan tergantung pada lingkungan
5. Kelompok Tani Masyarakat yang menerapkan sistem pertanian
bergilir dan tidak bisa pindah lahan
E. PRO DAN KONTRA MASYARAKAT DENGAN PEMERINTAH TERKAIT
DENGAN PEMBANGUNAN BANDARA
PRO dan KONTRA memang
tidak pernah lepas dari sebuah rencana pemerintah. kebanyakan warga yang kontra
diakibatkan karena mereka sangat menggantungkan hidupnya dengan lahan untuk
bercocok tanam,sedang warga yang pro disebabkan karena mereka memiliki
pandangan bahwa jika bandara dibangun,ekonomi disekitar bandara akan ikut
naik,dan mereka memiliki peluang usaha kedepanya. Pro dan Kontra antar warga
yang setuju dan tidak setuju dengan pembangunan bandara ini memang menimbulkan
konflik antara kedua belah pihak. Hal ini pernah memicu ketidakrukunan antara
warga yang satu dengan yang lain,seperti cerita dari warga yang pernah saya
temui,beliau menceritakan bahwa warga sangat tidak setuju dengan pembangunan
itu sampai menyandera kepala desa yang harusnya mereka hormati dan patuhi,hal
ini dapat terjadi karena kepala desa mendukung rencana pemerintah atas pembangunan
bandara,sangat bertolak belakang dengan keinginan warga yang tidak ingin adanya
pembangunan tersebut,maka dari itu tindakan warga atas kepala desa tersebut
membuat keadaan semakin genting,namun untung penyanderaan kepala desa yang
dilakukan warga dapat diselamatkan oleh polisi. Untuk meredam konflik warga
dengan pemerintah tersebut diadakanlah pertemuan. Pertemuan yang akan
dibuat secara kelompok tiga atau empat kali dengan peserta ratusan orang
tersebut akan melibatkan tim dari Pemerintah DIY. Dengan cara tersebut maka 308
warga yang menolak diharapkan bisa diselesaikan dalam waktu yang cepat.
Seperti
yang dimuat pada koran kedaultan rakyat tanggal
Kamis,19 Maret 2015 .Demi suksesnya pembangunan bandara
di wilayah pesisir selatan Kecamatan Temon, Bupati dr Hasto Wardoyo siap
mendengarkan aspirasi dan alasan warga menolak program pemerintah tersebut
dengan berencana menemui warga yang hingga saat ini belum sepakat bandara
dibangun di wilayah mereka. “Dalam pertemuan nanti kapasitas
saya sebagai kepala daerah. Karena saya juga masuk tim keberatan maka tidak
salah kalau sekarang menggali aspirasi,” tegasnya di Wates, Selasa
(17/03/2015).
Bupati
yakin dari 308 warga tidak semuanya menolak atau ada warga yang hanya
ikut-ikutan karena alasan sosial. Hal tersebut bisa dilihat dari alasan yang
dikemukakan dalam formulir keberatan. Bahkan dari jumlah tersebut setengahnya
merupakan petani penggarap dan bukan pemilik lahan.
Perihal
adanya rencana Komnas HAM turun, Hasto sama sekali tidak mempermasalahkannya. Menurutnya
hal itu justru akan membuat semuanya lebih jelas dan objektif. Apalagi semua
tahapan yang dilalui juga transparan dan tidak ada yang disembunyikan.
“Kehadiran Komnas HAM malah baik biar lebih objektif,” ujarnya.
Secara
terpisah Humas Proyek Pembangunan Bandara PT Angkasa Pura (AP) I Ariyadi
Subagyo menjelaskan masa konsultasi publik telah berakhir pada Selasa
(17/03/2015). Semua pengaduan warga ditangani tim dari Biro Tata Pemerintahan
(Tapem) Sekda DIY. Pasca konsultasi publik lanjutan dilaksanakan di Kecamatan
Temon, masih ada sejumlah warga yang datang untuk menyampaikan pendapatnya.
Dengan
berakhir masa konsultasi publik lanjutan maka proses aspirasi warga sudah akan
ditutup. Sehingga hasil dari kegiatan tersebut akan disampaikan kepada gubernur
sebelum Ijin Penetapan Lokasi (IPL) terbit. Sementara gubernur juga akan
membuat tim keberatan untuk mengkaji keberatan yang disampaikan oleh tim
dan solusi yang ditawarkan.
Langkah
bupati yang akan menemui wara mendapat sambutan positif dari manajemen PT AP I.
Diharapkan langkah tersebut akan menjadi pencerahan bagi warga, sebab sampai
saat ini belum semua warga mengetahui informasi sebenarnya tentang rencana
pembangunan bandara. Apalagi warga yang mengikuti konsultasi publik dan
konsultasi publik lanjutan langsung ke desk atau meja, tanpa mendengarkan
informasi dari tim terlebih dulu.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Faktor penyebab
Demonstrasi penolakan megaproyek bandara di Kulon Progo tepatnya di Desa Glagah
Kecamatan Temon ini adalah Ketidaklengkapan
informasi soal ganti rugi menjadi penyebab banyaknya buruh tani penggarap
menolak rencana pembangunan bandara. Rakyat sekitar takut rumahnya yang telah bertahun–tahun ditempati tergusur
begitu saja dan merekapun takut kehilangan mata pencaharian mereka yang
sebagian besar adalah bertani atau bercocok tanam. Lahan yang semula mereka
gantungkan untuk mencari kebutuhan hidup sangat mereka pertahankan,meskipun
tanah yang dintinggali warga sebenarnya masih milik kraton Ngayogyakarta,namun
warga masih tetap saja sulit untuk mengerti akan dampak positif yang besar dari
pembangunan megaproyek ini.Kondisi ekonomi didaerah glagah sebagian besar
penduduknya adalah petani dan nelayan.
Demonstrasi
itu sendiri diartikan sebagai
suatu aksi peragaan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk
menunjukkan cara kerja, cara pembuatan, maupun cara pakai suatu alat atau material,akan
tetapi di sini saya menggunakan definisi demonstrasi dalam
konteksnya sebagai salah satu jalur yang ditempuh untuk menyuarakan pendapat,
dukungan, maupun kritikan, yaitu suatu tindakan untuk menyampaikan penolakan,
kritik, saran, ketidakberpihakan, dan ketidaksetujuan melalui berbagai cara dan
media dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan baik secara tertulis maupun
tidak tertulis sebagai akumulasi suara bersama tanpa dipengaruhi oleh
kepentingan pribagi maupun golongan yang menyesatkan dalam rangka mewujudkan
demokrasi yang bermuara pada keadaulatan dan keadilan rakyat agar
tidak menimbulkan konflik berkepanjangan.
B. SARAN
Menurut
saya, masih banyak hal-hal di Indonesia yang perlu diperbaiki khususnya
terkait konflik Penolakan megaproyek bandara di Kulon Progo ini. Kita sebagai warga negara yang
berlandaskan Pancasila dan sangat menjujung tinggi makna tersebut sebaiknya
mengetahui sebelumnya bagaimana demonstrasi yang diharapkan, supaya dalam upaya
melaksanankan hak, tidak mengganggu atau merugikan hak milik orang lain yang
meupakan kewajiban kita.
DAFTAR PUSTAKA
Irawan dan Suparmoko, 2001, Ekonomi
Pembangunan, Yogyakarta: UGM Press
Bachtiar, Wardi, 2010, Sosiologi
Klasik, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Kedaulatan Rakyat ( Kamis, 19 Maret 2015 )
Tribun Jogja ( Minggu, 22 Februari 2015 )
Tribun Jogja ( Selasa, 23 September 2014 )
Sindo ( Kamis, 18 September 2014 )






