Pages
Pengaruh Perkembangan Pendidikan dan Upaya Penanggulanganya
Diposting oleh
Unknown
|
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI BERKEMBANGNYA MASALAH PENDIDIKAN
Oleh Arif Nugroho
Oleh Arif Nugroho
1. Perkembangan lptek dan Seni
• Perkembangan iptek
• Perkembangan iptek
Terdapat
hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek (ilmu pengetahuan dan
teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan
terorganisasi mengenai alam semesta, dan teknologi adalah penerapan yang
direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup rnasyarakat.
• Perkembangan Seni
• Perkembangan Seni
Kesenian
merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang rnenghasilkan
sesuatu yang indah. Berkesenian menjadi kebutuhan hidup manusia. Melalui
kesenian manusia Liapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat
orisinil (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan.
Seni membutuhkan pengembangan.
2. Laju Pertumbuhan Penduduk
Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :
a. Pertambahan penduduk, dan
b. Penyebaran penduduk.
Pertambahan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian, rnengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu proporsi penduduk usia sekolah dasar .menurun, sedangkan proporsi penduduk usia sekolah lanjutan, angkatan kerja dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan bidang gizi dan kesehatan.
Penyebaran penduduk di seluruh pelosok tanah air tidak merata Ada daerah yang padat penduduk, terutama di kota-kota besardan daerah yang penduduknya jarang yaitu di daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yang berlokasi dipegunungan dan di pulau-pulau.
3. Aspirasi Masyarakat
Dalam dua dasa warsa terakhir ini. Aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat haruss ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh
pekerjaan yang layak dan menetap itu. Pendidikan dianggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial. Sebagai akibat dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan maka orang tua mendorong anaknya untuk bersekolah, agar nantinya anak – anaknya memperoleh pekerjaan yang lebih baik daripada orang tuanya sendiri. Dorongan yang kuat ini juga terdapat pada anak-anak sendiri.
Beberapa hal yang tidak dikehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya, jumlah kelas setiap sekolah membengkak, diadakannya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar, kekurangan -sarana belajar, kekurangan guru, dan seterusnya. Dampak langsung dan tidak langsung dari kondisi sebagai, mana digambarkan itu ialah terjadinya penurunan kadar efektifitas dengan kata lain, massalisasi pendidikan menghambat upaya pemecahan masalah mutu pendidikan. Massalisasi pendidikan ibarat perusahaan konveksi pakaian yang hanya melayani tiga macam ukuran (large, medium, dan, small). Kebutuhan individual yang khusus tidak terlayani.
4. Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan
Keterbelakangan budaya adalah suatu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi rnasyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dan kenyataan apakah kebudayaannya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan zaman. Karena itu penilaian dari masyarakat luar itu dianggap subjektif. Maupun dari dalam lingkungan rnasyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik yang bersifat material seperti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat nonmaterial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu dan lain-iain.
2. Laju Pertumbuhan Penduduk
Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :
a. Pertambahan penduduk, dan
b. Penyebaran penduduk.
Pertambahan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian, rnengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu proporsi penduduk usia sekolah dasar .menurun, sedangkan proporsi penduduk usia sekolah lanjutan, angkatan kerja dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan bidang gizi dan kesehatan.
Penyebaran penduduk di seluruh pelosok tanah air tidak merata Ada daerah yang padat penduduk, terutama di kota-kota besardan daerah yang penduduknya jarang yaitu di daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yang berlokasi dipegunungan dan di pulau-pulau.
3. Aspirasi Masyarakat
Dalam dua dasa warsa terakhir ini. Aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat haruss ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh
pekerjaan yang layak dan menetap itu. Pendidikan dianggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga sosial. Sebagai akibat dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan maka orang tua mendorong anaknya untuk bersekolah, agar nantinya anak – anaknya memperoleh pekerjaan yang lebih baik daripada orang tuanya sendiri. Dorongan yang kuat ini juga terdapat pada anak-anak sendiri.
Beberapa hal yang tidak dikehendaki antara lain ialah seleksi penerimaan siswa pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan menjadi kurang objektif, jumlah murid dan siswa perkelas melebihi yang semestinya, jumlah kelas setiap sekolah membengkak, diadakannya kesempatan belajar bergilir pagi dan sore dengan pengurangan jam belajar, kekurangan -sarana belajar, kekurangan guru, dan seterusnya. Dampak langsung dan tidak langsung dari kondisi sebagai, mana digambarkan itu ialah terjadinya penurunan kadar efektifitas dengan kata lain, massalisasi pendidikan menghambat upaya pemecahan masalah mutu pendidikan. Massalisasi pendidikan ibarat perusahaan konveksi pakaian yang hanya melayani tiga macam ukuran (large, medium, dan, small). Kebutuhan individual yang khusus tidak terlayani.
4. Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan
Keterbelakangan budaya adalah suatu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi rnasyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dan kenyataan apakah kebudayaannya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan zaman. Karena itu penilaian dari masyarakat luar itu dianggap subjektif. Maupun dari dalam lingkungan rnasyarakat sendiri. Kebudayaan baru itu baik yang bersifat material seperti peralatan-peralatan pertanian, rumah tangga, transportasi, telekomunikasi, dan yang bersifat nonmaterial seperti paham atau konsep baru tentang keluarga berencana, budaya menabung, penghargaan terhadap waktu dan lain-iain.
Keterbelakangan
budaya terjadi karena :
- Letak geografis tempat tinggal
suatu masyarakat (missal terpencil).
- Penolakan masyarakat terhadap
datangnya unsur budaya baru karena tidak dipahami atau karena
dikhawatirkan akan merusak sendi masyarakat.
- Ketidakmampuan masyarakat
secara ekonomis menyangkut unsure kebudayaan tersebut.
Sehubungan
dengan factor penyebab terjadinya keterbelakangan budaya umumnya dialami oleh :
- Masyarakat daerah terpencil.
- Masyarakat yang tidak mampu
secara ekonomis
- Masyarakat yang kurang terdidik
- Permasalahan aktual Pendidikan dan Penaggulangannya.
- PERMASALAHAN AKTUAL PENDIDIKAN
Permasalahan Aktual Pendidikan di Indonesia
Pendidikan selalu menghadapi masalah, karena selalu terdapat kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan hasil yang dapat dicapai dari proses pendidikan. Permasalahan aktual berupa kesenjangan - kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa mendesak untuk ditanggulangi.
Beberapa masarah aktual pendidikan yang akan dikemukakan meliputi masalah-rnasalah keutuhan pencapaian sasaran, kurikulum, peranan guru, pendidikan dasar 9 tahun, dan pendayagunaan teknologi pendidikan.
Masalah aktual tersebut ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaanya. Misalnya munculnya kurikulum baru adalah masalah konsep.
Berikut ini masalah aktual tersebut akan dibahas satu persatu.
Pendidikan selalu menghadapi masalah, karena selalu terdapat kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan hasil yang dapat dicapai dari proses pendidikan. Permasalahan aktual berupa kesenjangan - kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa mendesak untuk ditanggulangi.
Beberapa masarah aktual pendidikan yang akan dikemukakan meliputi masalah-rnasalah keutuhan pencapaian sasaran, kurikulum, peranan guru, pendidikan dasar 9 tahun, dan pendayagunaan teknologi pendidikan.
Masalah aktual tersebut ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaanya. Misalnya munculnya kurikulum baru adalah masalah konsep.
Berikut ini masalah aktual tersebut akan dibahas satu persatu.
1. Masalah Keutuhan Pencapaian Sasaran
Di dalam undang-undang Nornor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 4 telah dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya.
Banyak hambatan yang harus dihadapi dalam pelaksanaan sistem pendidikan antara lain:
Di dalam undang-undang Nornor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 4 telah dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya.
Banyak hambatan yang harus dihadapi dalam pelaksanaan sistem pendidikan antara lain:
a. Masalah
Kurikulum
Pada bagian
ini akan dibahas masalah aktual mengenai kurikulum Masalah kurikulum meliputi
masalah konsep dan masalah pelaksanaannya. Yang menjadi sumber masalah
ini bagaimana system pendidikan dapat mernbekali peserta didik untuk
terjun kelapangan kerja (bagi yang tidak melanjutkan sekolah) dan memberikan
bekal dasar yang kuat untuk ke perguruan tinggi (bagi mereka yang ingin
lanjut).
b. Masalah Peranan Guru
Konsep-konsep baru lahir sebagai cerminan humanisme yang memberikan arah baru pada pendidikan. Sejalan dengan itu perkembangan iptek yang pesat menyumbangkan cara – cara baru yang lebih mantap terhadap pemecahan masalah pendidikan. dalam realisasinya dipandu oleh kurikulum yang telah disempurnakan. Sejalan dengan itu maka guru sebagai suatu komponen system pendidikan juga harus berubah.
c. Masalah pendidikan 9 tahun
Keberadaan pendidikan 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI No 2 tahun 1989 Pasal 6 menyatakan tentang hak warga Negara untuk mengikuti pendidikan sekurang – kurangnya tamat pendidikan dasar. Kemudian PP nomor 28 tahun 1990 tentang pendidikan dasar, pasal 2 menyatakan bahwa pendidikan dasar merupakan pendidikan 9 tahun terdiri atas program pendidikan 6 tahun di SD dan program pendidikan 3 tahun di SLTP, pasal 3 memuat tujun pendidikan dasar yaitu memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga Negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.
Dalam pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, lebih – lebih pada tahap awal sudah pasti banyak hambatannya, hambatan tersebut ialah :
b. Masalah Peranan Guru
Konsep-konsep baru lahir sebagai cerminan humanisme yang memberikan arah baru pada pendidikan. Sejalan dengan itu perkembangan iptek yang pesat menyumbangkan cara – cara baru yang lebih mantap terhadap pemecahan masalah pendidikan. dalam realisasinya dipandu oleh kurikulum yang telah disempurnakan. Sejalan dengan itu maka guru sebagai suatu komponen system pendidikan juga harus berubah.
c. Masalah pendidikan 9 tahun
Keberadaan pendidikan 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI No 2 tahun 1989 Pasal 6 menyatakan tentang hak warga Negara untuk mengikuti pendidikan sekurang – kurangnya tamat pendidikan dasar. Kemudian PP nomor 28 tahun 1990 tentang pendidikan dasar, pasal 2 menyatakan bahwa pendidikan dasar merupakan pendidikan 9 tahun terdiri atas program pendidikan 6 tahun di SD dan program pendidikan 3 tahun di SLTP, pasal 3 memuat tujun pendidikan dasar yaitu memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga Negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.
Dalam pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, lebih – lebih pada tahap awal sudah pasti banyak hambatannya, hambatan tersebut ialah :
a. Realisasi pendidikan dasar yang
diatur PP Nomor 28 Tahun 1989 masih harus dicarikan titik temunya dengan PP
Nomor 65 Tahun 1951 yang mengatur sekolah dasar sebagai bagian dari pendidikan
dasar, karena PP tersebut belum dicabut.
b. Kurikulum yang belum siap.
c. Pada masa transisi para pelaksana
pendidikan di lapangan perlu disiapkan melalui bimbingan – bimbinga,
penyuluhan, penataran dan lain – lain.
UPAYA
PENAGGULANGANNYA
Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk menanggulangi masalah - masalah actual antara lain sebagai berikut :
Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk menanggulangi masalah - masalah actual antara lain sebagai berikut :
a. Pendidikan afektif perlu
ditingkatkan secara terprogram tidak cukup berlangsung hanya secara insidental.
b. Pelaksanaan kegiatan kulokuler dan
ekstrakurikuier dikerjakan dengan penuh kesungguhan dan hasilnya diperhitungkan
dalam menetapkan nilai akhir ataupun pelulusan.
c. Pemilihan siswa atas kelompok yang
akan melanjutkan belajar ke perguruan tinggi dengan yang akan terjun
kemasyarakat merupakan hal yang prinsip karena pada dasarnya tidak semua siswa
secara potensial mampu belajar di pergutuan tinggi.
d. Pendidikan tenaga kependidikan perlu
diberi perhatian khusus.
e. Untuk pelaksanaan pendidikan dasar 9
tahun apalagi jika dikaitkan dengan gerakan wajib belajar, perlu diadakan
penilitian secara meluas pada masyarakat untuk menemukan faktor penunjang dan
utamanya faktor penghambatnya.
Pendidikan di Daerah Tertinggal
Diposting oleh
Unknown
|
Wajah Pendidikan di Daerah Tertinggal
Oleh Arif Nugroho
Pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang telah diatur dalam undang-undang. Karena itu, seharusnya setiap individu berlomba untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Bahkan, ada sebagian orang yang memilih meninggalkan nusantara untuk bersekolah di negara tetangga, tentunya dengan dana yang tak sedikit. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi pendidikan di daerah tertinggal. Jauh di pelosok nusantara, para penerus bangsa bahkan ada yang belum mengenal abjad.
Bagi masyarakat pedalaman, pendidikan memang masih dipandang sebelah mata. Parahnya, pemerintah sebagai pengatur kebijakan pendidikan pun bersikap kurang adil pada sistem dan infrastruktur pendidikan yang berada di daerah pelosok. Perbedaan yang sangat kontras bisa kita lihat jika membandingkan fasilitas sekolah di kota besar dengan sekolah terpencil.
Di sekolah negeri di Jakarta, sudah tentu memiliki gedung sendiri, lapangan olahraga, laboratorium, perpustakaan dengan buku yang lengkap, laboratotium komputer dan para pengajar yang telah mengeyam pendidikan keguruan.
Sedangkan, sekolah di desa terpencil terkadang tak memiliki gedung sendiri, sehingga harus berbagi, misalnya antara SD dan SMP, ruang perpustakaan pun nampak lengang, tak ada komputer yang bisa digunakan siswa untuk membuka cakrawala. Guru yang mengajar kebanyakan hanya lulusan SMA dan belum memperoleh pendidikan keguruan.
Pemerintah seakan pilih kasih dalam menggelontorkan dana pendidikan. Bagi daerah terpencil, mereka sangat merasakan ketidakadilan tersebut. Seharusnya, pemerintah bisa bersikap lebih bijak dan bisa meratakan sistem pendidikan di negeri ini. Jangan sampai wajah pendidikan yang murung di daerah terpencil terus terpelihara.
Bukti nyata kesenjangan pendidikan di daerah terpencil ialah SMP Negeri Satap Kembang Lala yang berada di belahan Utara Manggarai Timur, persisnya di kampung Golo Cewo, desa Kembang Mekar, kecamatan Sambi Rampas-NTT. SMP Negeri Satap ini berada di daerah yang sedikit jauh dari pusat pelayanan pendidikan dan terkesan terisolir karena topografi alam yang berbukit-bukit dan terjal. SMP Negeri Satap Kembang Lala adalah SMP Baru yang terletak di desa Kembang Mekar. SMP Negeri Satap Kembang Lala memiliki luas area sekitar 2.500 m2.. Gedung sekolah ini merupakan gedung SDI Kembang Lala, karena kedua satuan pendidikan ini masih berada di bawah satu atap.
Mari bandingkan dengan SMP Negeri lain yang berada di pusat kota!
Wajah pendidikan di daerah tertinggal memang masih terlihat suram. Hingga saat ini, pemerintah seakan tak berbuat banyak dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Fasilitas yang kurang lengkap dan pengajar yang kurang professional menjadi salah satu hambatan bagi berkembangnya minat belajar para masyarakat pelosok.
Namun, semua kekurangan dalam fasilitas pendidikan tak menyurutkan niat anak bangsa untuk mengenyam bangku sekolah. Terbukti, banyak pelajar yang rela berjalan kaki puluhan kilo meter untuk menimba ilmu. Banyak pula yang mesti melewati sungai yang dalam untuk berangkat ke sekolah. Mestinya, semangat pelajar di daerah tertinggal ini lah yang kita jadikan motivasi. Sehingga pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi.
Semoga, wajah pendidikan di negeri ini bisa bersinar layaknya mentari bagi. Bukan hanya bagi warga ibu kota, tapi juga bagi para penerus bangsa di pelosok nusantara.
my first posting
Diposting oleh
Unknown
|
Pendidikan Sekolah Dasar
Arif Nugroho
Artikel Pendidikan : Artikel Pendidikan Sekolah Dasar
Salah satu pengertian pendidikan yang sangat umum dikemukakan oleh Driyarkara (1980) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia muda ke taraf insani harus diwujudkan di dalam seluruh proses atau upaya pendidikan. Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa “Pendidikan adalah Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”.
Tingkat satuan pendidikan yang dianggap sebagai dasar pendidikan adalah sekolah dasar.
Di sekolah inilah anak didik mengalami proses pendidikan dan
pembelajaran. Dan, secara umum pengertian sekolah dasar dapat kita
katakan sebagai institusi pendidikan yang menyelenggarakan proses
pendidikan dasar dan mendasari proses pendidikan selanjutnya. Pendidikan
ini diselenggarakan untuk anak-anak yang telah berusia tujuh tahun
dengan asumsi bahwa anak seusia tersebut mempunyai tingkat pemahaman dan
kebutuhan pendidikan yang sesuai dengan dirinya. Pendidikan dasar
memang diselenggarakan untuk memberikan dasar pengetahuan, sikap dan
keterampilan bagi anak didik. Pendidikan dasar inilah yang selanjutnya
dikembangkan untuk meningkatkan kualitas diri anak didik. Kita
seharusnya memahami pengertian sekolah dasar sehingga dapat mengikuti
setiap kegiatan yang diselenggarakan di tingkat ini. Walaupun, kita
pengenal pendidikan anak usia dini (PAUD), tetapi setidaknya mereka
lebih mengedepankan untuk melatih anak bersosialisasi dengan teman dan
masyarakat, bukan untuk mengikuti pendidikan dan pembelajaran yang
mengarah pada pemahaman pengetahuan.
Tujuan Pendidikan Dasar
Berkenaan dengan tujuan operasional pendidikan SD, dinyatakan di dalam Kurikulum Pendidikan Dasar yaitu memberi bekal kemampuan dasar membaca, menulis dan berhitung, pengetahuan dan ketrampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya, serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan di SLTP. Tujuan pendidikan Sekolah Dasar dapat diuraikan secara terperinci, seperti berikut :
- Memberikan Bekal Kemampuan Membaca, Menulis, dan Berhitung.
- Memberikan Pengetahuan dan Ketrampilan Dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya.
- Mempersiapkan Siswa untuk Mengikuti Pendidikan di SLTP.
Pengertian sekolah dasar dapat dikatakan sebagai kegiatan
mendasari tiga aspek dasar, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
Ketiga aspek ini merupakan dasar atau landasan pendidikan yang paling
utama. Hal ini karena ketiga aspek tersebut merupakan hal paling hakiki
dalam kehidupan. Kita membutuhkan sikap-sikap hidup yang positif agar
kehidupan kita lancar. Kita juga membutuhkan dasar-dasar pengetahuan
agar setiap kali berinteraksi tidak ketinggalan informasi. Dan, yang
tidak kalah pentingnya adalah keterampilan. Di sekolah dasar, kegiatan
pembekalan diberikan selama enam tahun berturut-turut. Pada saat inilah
anak didik dikondisikan untuk dapat bersikap sebaik-baiknya. Pengertian
sekolah dasar sebagai basis pendidikan harus benar-benar dapat dipahami
oleh semua orang sehingga mereka dapat mengikuti pola pendidikannya.
Tentunya, dalam hal ini, kegiatan pendidikan dan pembelajarannya
mengedepankan landasan bagi kegiatan selanjutnya. Tanpa pendidikan
dasar, tentunya sulit bagi kita untuk memahami konsep-konsep baru pada
tingkatan lebih tinggi.
Langganan:
Komentar (Atom)






